Deskripsi
Tawa kembali terdengar memenuhi ruang tamu yang sempit.
“Lihat tuh wajah Pakde, kalau marah seram…,” kata Mamung
membanyol. Aku terbahak-bahak.
Kakak-kakakku, adik-adikku, juga kedua orang tuaku tersayang
tak bisa menahan tawa. Tak ada seorang pun yang mampu
menyimpan deretan gigi kelincinya. Semua mengumbar senyum
bahagia. Bahagia. Ya, bahagia karena mampu menghipnotis Pakde
sampai terhenyak, tak berkutik, dan tak bersuara lagi. Hanya
mampu melotot menyaksikan kami tertawa bersama, seperti koor
dan dikomando. Mamung memang pandai mengocok perut kami.
Membuat segar suasana pertemuan keluarga hari ini.
Aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga besar sekali, sebelas
bersaudara. Tiga kakak perempuanku: Mbak Tu, Mbak Roh, dan
Mbak Ru. Dua kakakku setelahnya sudah meninggal dunia. Dua
kakak laki-laki urutan keenam dan ketujuh yang setia menemaniku
adalah Mamung dan Mago. Adik laki-lakiku Mamet pas urutan di
bawahku. Kemudian Imah. Yang paling bungsu meninggal ketika
aku masih kecil.
Mbak Tu tinggi besar seperti Bapak: gagah dan pendiam.
Rambutnya hitam panjang menyentuh pantatnya. Tahi lalat di pipi
kanannya menambah manis kakak sulungku ini. Dia sangat pemalu,
…
MANUSIA BATU 2: Membuka Tabir Kelabu
Copyright © Rumisih Roem
Penulis: Rumisih Roem
Editor: Aditya Kusuma Putra
Penata Letak: Yoga Ade S
Penata Sampul: Raditya Pramono
CV KEKATA GROUP
Kekata Publisher
kekatapublisher@kekatagroup.co.id
kekatapublisher.com
Fanspage: Kekata Publisher
Jalan Sumbing Raya No. 27B, Mojosongo, Kec. Jebres
Surakarta, Jawa Tengah 57127
Cetakan Pertama, Agustus 2019
Surakarta, Kekata Publisher, 2019
xxiv 212 hal; 14,8×21 cm
ISBN: 978-602-476-122-6





















Ulasan
Belum ada ulasan.